Gaji Besar Belum Tentu Bikin Betah: Kenapa Banyak Orang Tetap Ingin Kerja Lagi di Tempat Lain?

kerjalagi – Siapa yang nggak mau gaji besar? Angka yang masuk rekening setiap bulan jelas penting. Apalagi kalau kebutuhan hidup terus berjalan, cicilan nggak kenal cuti, dan wishlist kadang lebih cepat bertambah daripada saldo tabungan.
Tapi ada satu pertanyaan menarik.
Kalau gajinya sudah lumayan, kenapa masih ada orang yang setiap Minggu malam mulai malas membayangkan Senin? Bahkan diam-diam buka LinkedIn dan berpikir, “Kayaknya gue mau kerja lagi di tempat lain, deh.”
Jawabannya sederhana: uang penting, tapi ternyata bukan satu-satunya alasan orang bertahan di sebuah pekerjaan.
Gallup dalam State of the Global Workplace 2026 melaporkan hanya 20% karyawan di dunia yang tergolong engaged dengan pekerjaannya pada 2025. Sementara itu, hanya 34% pekerja yang masuk kategori thriving dalam evaluasi kehidupan mereka.
Artinya, punya pekerjaan belum tentu sama dengan merasa nyaman menjalani pekerjaan.
Gaji Penting, tapi Kita Nggak Hidup dari Slip Gaji Saja
Jangan salah. Kompensasi tetap punya peran besar dalam kepuasan kerja.
PwC dalam Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menemukan 55% pekerja global mengalami tekanan finansial. PwC juga mencatat pekerja yang tidak memperoleh kenaikan gaji cenderung lebih rendah dalam hal kepuasan, inspirasi, dan antusiasme terhadap pekerjaan.
Tapi setelah kebutuhan finansial terpenuhi, ada faktor lain yang mulai terasa.
Bagaimana lingkungan kerja kita? Apakah atasan bisa dipercaya? Apakah ide boleh disampaikan? Apakah kesalahan selalu berakhir dengan mencari siapa yang harus disalahkan? Dan apakah pekerjaan masih memberikan ruang untuk punya kehidupan setelah laptop ditutup?
PwC menemukan pekerja dengan tingkat kepercayaan tertinggi terhadap manajer langsung memiliki motivasi 72% lebih tinggi dibanding mereka yang tingkat kepercayaannya paling rendah. Pekerja yang merasa mendapat dukungan untuk mengembangkan keterampilan juga tercatat 73% lebih termotivasi.
Jadi, budaya kerja bukan sekadar poster berisi corporate values yang ditempel di dinding kantor.
Efeknya terasa langsung pada orang yang bekerja di dalamnya.
Betah Itu Paket Lengkap
Bayangkan kamu mendapat gaji Rp20 juta sebulan.
Lumayan banget.
Tapi setiap malam masih harus membalas chat kantor. Weekend sering terganggu. Atasan sulit diajak bicara. Sudah tiga tahun bekerja, tetapi nggak ada kesempatan belajar sesuatu yang baru.
Lama-lama angka di rekening bisa terasa kurang menarik.
Di sinilah work life balance, pengembangan karier, dan kesehatan mental kerja menjadi bagian dari pertimbangan.
Data PwC menunjukkan pekerja yang merasa pekerjaannya paling bermakna memiliki motivasi 91% lebih tinggi dibanding mereka yang merasakan makna paling rendah. Sementara pekerja yang lebih sering merasa lelah, bosan, marah, atau kewalahan tercatat 30% lebih rendah motivasinya.
Jadi, kalau kamu sedang mempertimbangkan tawaran pekerjaan, jangan cuma bertanya, “Gajinya berapa?”
Coba tambahkan pertanyaan lain.
“Gue bisa berkembang nggak di sana?”
“Cara kerjanya cocok nggak sama gue?”
“Punya waktu buat hidup nggak?”
Karena pekerjaan yang bagus bukan sekadar pekerjaan yang membuat rekening bertambah.
Tapi pekerjaan yang membuat kita masih punya energi untuk menjalani kehidupan setelah jam kerja selesai.
Dan kalau suatu hari kamu memutuskan untuk kerja lagi di tempat baru, pastikan yang dicari bukan cuma nominal lebih tinggi.
Cari tempat yang membuat kamu dibayar dengan layak, bisa berkembang, dihargai, dan tetap punya kehidupan di luar pekerjaan.
Mau mempersiapkan skill dan wawasan sebelum mengambil langkah karier berikutnya? Yuk, lanjut belajar lewat Materi Belajar.